2017 - @dnwahyudi

Cari Apapun di Sini

Riding Minggu Pagi 0

Riding Minggu Pagi

Supaya naik sepedanya tambah semangat, aku mencoba untuk “mengaitkan” hobiku yang stu ini dengan hobi yang lainnya yaitu blogging. Jadi dibuatlah video ini. Sebuah dokumentasi gak penting dari kegiatanku membakar kalori yang diperoleh dengan uang halal.

Sedikit info, video ini dibuat dengan menggunakan kamera smartphone-ku yaitu Xiaomi Redmi 2 Prime dengan bantuan sebuah holder yang aku pasang pada handlebar sepedaku.

Tercabik oleh Louisa 0

Tercabik oleh Louisa

Membaca adalah salah satu cara kita menggali informasi. Apapun bacaannya, aku menganggap itu bermanfaat untuk menambah wawasan kita. Mulai dari literatur akademik sampai dengan bungkus mie instan Korea, kalau aku mampu menangkap maknanya (terlepas dari apapun bahasa yang digunakan), kemungkinan aku akan membacanya.

Jujur saja, akhir-akhir ini minat bacaku memang agak menurun. Hal ini disebabkan kesibukan (sok sibuk) dan juga lebih menariknya media elektronik untuk disimak.

Untuk meningkatkan minat bacaku, aku berusaha agar tidak terlepas dari buku, karena itu untuk saat ini aku pilih buku fiksi saja.

Jadi sekitar awal tahun 2015, aku membeli buku yang berjudul Little Women karya Louisa May Alcott. Mungkin beberapa dari Anda sudah mengenal buku ini. Aku sudah lama tertarik dengan buku ini karena buku ini memang sangat terkenal dan juga bahkan ada yang menganggapnya sebagai literatur karya sastra modern.
Saking suksesnya buku Little Woman ini membuatnya sudah empat kali diangkat menjadi film yaitu pada tahun 1933, 1948, 1978 dan 1994.

Karena aku tidak mau “mengkhianati” buku yang sudah aku beli, aku menahan diri untuk tidak menonton filmnya. Padahal, aku sudah mengunduh film Little Women (yang versi 1994) lebih dari setahun yang lalu.

Pada awal September ini akhirnya aku selesai membaca buku Little Women ini (lama banget, ya). “Finally I wil watch the movie, and having fun”, that’s something I though.

Kembali sedikit ke bukunya. Jadi, pada tahun 1868 buku Little Women mengalami kesuksesan yang sangat besar. Segera saja Louisa May Alcott menerbitkan buku kedua dari kisah keluarga March ini pada tahun selanjutnya yaitu 1869. Buku kedua ini diberi Judul Good Wives. Pada penerbitan tahun-tahun selanjutnya, ada yang menerbitkan buku ini secara terpisah dan ada juga yang menerbitkan secara bundled. Hal tersebut baru aku ketahui baru-baru ini saja, setelah semuanya terlambat, ketika hati dan perasaanku sudah tercabik-cabik oleh cerita Good Wives.

Buku yang aku beli adalah buku dengan versi terpisah yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2014. Hal ini baru aku sadari setelah membaca catatan kecil di akhir buku.
Ternyata ada temannya
Sedangkan film yang dibuat pada tahun 1994 (film yang aku tonton kemarin) adalah film yang ceritanya dibuat dari kedua buku ini (Little Women dan Good Wives). Hal itu yang tidak pernah aku ketahui.
Profil Little Women (1994) di IMDB
Aku merasa sedikit keheranan ketika film baru saja setengah berjalan, tapi cerita yang ditampilkan sudah mencapai akhir buku Little Women. Beberapa saat kemudian aku baru ingat kalau buku Little Women punya sequel yang berjudul Good Wives.

Awalnya aku enjoy saja menonton film ini, sampai pada titik tertentu aku mulai tercabik-cabik.

Aku yang belum membaca buku Good Wives tentu saja belum tahu alur cerita paruh kedua dari film ini. Eskalasi suasana emosional yang dihadirkan pada paruh kedua film Little Women hadir dengan cara yang sangat ekstrem bagiku yang mengingat bahwa buku Little Women menceritakan tentang kehidupan keluarga gadis-gadis muda (kalau tidak dibilang kecil).
Yang ini belum baca. Sumber gramedia.com
Film yang awalnya aku kira hanya menyajikan kisah-kisah penuh nilai kebaikan yang dibawakan oleh gadis-gadis muda ternyata juga menghadirkan kisah intrik khas orang dewasa seiring bertambah dewasanya mereka. Hal ini yang membuat aku benar-benar merasa kecele dan bahkan terombang-ambing secara emosional.

Terlepas dari rasa “tercabik-cabik”-ku, aku menyarankan kepada teman-teman sekalian untuk membaca atau menonton film ini karena cerita yang disajikan penuh dengan nilai-nilai kebaikan.

Nah, bagaimana dengan teman-teman sekalian? Apakah pernah membaca buku atau menonton filmnya? Atau ada rekomendasi film lain yang juga bisa membuat hati tercabik-cabik?
Digusur 0

Digusur

Baru-baru ini, image hosting gratisan yang selama ini aku pakai untuk menyimpan gambar yang aku tampilkan di blog ini membuat perubahan kebijakan. Mereka tidak lagi menyediakan layanan third party hosting bagi pengguna dengan akun gratis seperti diriku. Otomatis, blogku ini akan tidak lagi menampilkan gambar.

Mau-tidak mau, aku memang harus menggunakan layanan third party hosting mengingat kapasitas hosting web yang aku pakai sangatlah kecil. Maklum, blogger kelas debu seperti aku belum mampu menyewa layanan inang web dengan harga yang mahal. Itu sebabnya aku harus pintar-pintar mengakali masalah luas space yang aku pakai.
Foto-foto random di photobucket
Dalam beberapa hari setelah pengumuman dari photobucket mengenai perubahan kebijakan mereka, tampaknya belum ada perubahan dengan blogku. Hampir semua gambar yang aku inangkan pada layanan mereka masih bisa tampak pada blogku. Namun demikian, jangan sampai gambar sudah hilang, baru kemudian repot cari solusi.

Langkah pertama yang harus ditempuh adalah mencari image hosting alternatif. Untungnya tidak susah mencari website lain yang menyediakan layanan image hosting gratis. Rencananya, semua gambar akan aku pindahkan ke imgbb.com.

Selanjutnya adalah memindahkan semua foto yang ada di photobucket ke imgbb. ungkin, langkah kedua inilah yang akan banyak memakan waktu dan tenaga. Sampai pos ini ditulis, langkah kedua ini masih berupa wacana. Hehe. 😀

Langkah ketiga dan terakhir adalah mengedit ulang semua pos yang menggunakan gambar. Semua url gambar harus diganti, yang asalnya dari photobucket diganti dengan url dari imgbb. Langkah ketiga ini tidak susah hanya perlu kesabaran.

Semoga saja kedepannya imgbb tidak akan mengubah kebijakannya menjadi seperti photobucket, ya… 😀
Tes Konten VR
0

Tes Konten VR

Salah satu pembaruan terkini dari blog engine wordpress adalah kemampuannya untuk menampilkan konten Virtual Reality (VR). Oleh karena itu, maka dalam pos kali ini aku mau mencoba menempatkan satu foto panorama 360° untuk diuji coba di blogku ini.

Foto diambil menggunakan smartphone dengan aplikasi Cardboard Camera dari Google.

Ini dia fotonya.

View 360

[vr url=https://blog.dnwahyudi.com/wp-content/uploads/2017/04/IMG_20170429_173228.vr_.jpg view=360]

 

View cinema

[vr url=https://blog.dnwahyudi.com/wp-content/uploads/2017/04/IMG_20170429_173228.vr_.jpg view=cinema]

Dari foto di atas dapat kita ketahui bahwa view 360° hanya cocok untuk foto yang diambil menggunakan kamera 360°, sedangkan jika menggunakan smartphone dengan aplikasi pembuat foto panorama tampilan yang pas adalah tampilan cinema.

Astramatika-Unmul.com: Pengumuman Astramatika XXX Tahun 2023 0

Astramatika-Unmul.com: Pengumuman Astramatika XXX Tahun 2023

Berdasarkan hasil babak penyisihan Astramatika XXX Tahun 2023, maka diumumkan tim-tim yang masuk ke babak selanjutnya (semifinal) adalah beberapa tim yang memiliki nilai tertinggi di setiap jenjangnya. Hal ini sesuai dengan peraturan Astramatika XXX yang diumumkan pada saat Technical Meeting pada tanggal...

Penentuan semifinalis dilihat dari total skor Tes Tahap I dan Tes Tahap II. Bila ada dua atau lebih tim yang memiliki tottl skor yang sama, maka akan dilihat skor pada Tes Tahap II (tes kelompok). Bila tes kelompok juga sama, maka akan dilihat peserta dengan rata-rata usia paling muda.

Babak semifinal dan final memiliki format yang sama, di mana terdapat 3 putaran, yaitu soal wajib, soal keterampilan dan soal rebutan.

Putaran pertama adalah pemberian soal wajib di mana setiap tim memiliki kesempatan dan waktu yanng sama untuk mengerjakan soal yang diberikan. Jawaban ditulis di kertas, kemudian juri akan menilainya.

Putaran kedua adalah soal keterampilan. Pada putaran kedua, peserta menjawab soal dengan alat peraga.

Putaran ketiga adalah soal rebutan. Peserta menjawab pertanyaan yang dibacakan, kemudian menjawab dengan adu cepat tepat dengan tim lain. Jawaban salah akan diiberi penalti -50 dan jawabn benar mendapat skor 100.

Pemenang akan ditentukan dengan total skor yang didapatkan pada putaran 1, 2 an 3. Apabila ada tim yang memiliki skor yang sama, penentuan pemenang akan dilakukan dengan cara diberikan soal rebutan.

Untuk melihat semifinalis SD, sila klik disini.

Untuk melihat semifinalis SMP, sila klik di sini

Untuk melihat semifinalis SMA, sila klik di sini

*)Disclaimer: dnwahyudi.com tidak berafiliasi/terkait dengan Panitia Astramatika XXX Tahun 2023, HIMAPTIKA ataupun Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Mulawarman.
Pendidikan Dasar Berujung Maut(???) 0

Pendidikan Dasar Berujung Maut(???)

alam beberapa hari terakhir, berita media elektronik dan daring ramai dengan pemberitaan tentang tewasnya tiga mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) yang mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam). Ketiga mahasiswa tersebut diduga tewas karena kekerasan yang dilakukan saat mengikuti Diksar Mapala UII.
Foto dari sini >> Klik

Peribahasa mengatakan: seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi kita terkejut dan merasa geram dengan kejadian ini, namun di sisi lain kita tidak merasa heran dengan kejadian seperti ini. Kekerasana berujung maut yang berdalih bagian dari pendidikan sudah beberapa kali terjadi di Indonesia.

Ngomong-ngomong soal kekerasan dalam dunia pendidikan, jadi ingat pengalaman waktu sekolah dulu. Jadi, di sekolah saya dulu selalu ada masa orientasi siswa untuk siswa baru. Dalam pelaksanaan orientasi tersebut selalu terjadi kekerasan verbal (walau gak main fisik, tetap aja kekerasan, kan ya..).

Panitia senior yang disebut tim PD (Penegak Disiplin) akan datang ke kelas pada suatu hari saat masa orientasi siswa. Mereka akan “mencari-cari” kesalahan siswa baru. Di situ, kadang saya merasa sedih mereka akan melakukan ‘penegakan kedisiplinana’ dengan cara mebentak-bentak kita.

Saya dulu juga termasuk korban tindakan itu, tapi syukurlah ada sedikit obat psikis karena saya berhasil nabok muka salah satu anggota Tim PD (cerita detailnya mungkin akan saya tulis di lain kesempatan).

Kalau saya tidak salah ingat, pada tahun 2007 ada siswa baru yang berani membawa masalah ini keluar. Dia diwawancari koran dan menyebutkan hal-hal tentang tim PD. Walaupun gak sempat bikin heboh, tapi (sepertinya) hal ini sempat membuat guru-guru pembina OSIS ketar-ketir.. Hehe..

Tidak jauh berbeda dengan masa SMA, waktu masuk perguruan tinggi aku juga mengalami bullying dengan legitimasi perkenalan institusi. Dibentak-bentak, disuruh ini itu dan lainnya. Untungnya hal yang aku alami masih dalam batas kewajaran.

Lain lagi cerita teman saya yang berkuliah di salah satu Perguruan Tinggi di Kota Surabaya. Di kampusnya, teman saya ini mengalami satu tahun penuh bullying oleh kakak tingkatnya. Detail peristiwanya tidak banyak dia ceritakan, mungkin dia merasa sudah ternoda menganggap hal yang dialaminya masih dalam batas kewajaran. Satu hal yang dia ceritakan cuma disuuruh menyebrang danau kampus bersama teman sekelompoknya sambil menggotong seorang temannya yang lain yang harus dijamin kebersihannya.

Nah, itu dia sedikit pengalaman saya tentang kekerasan dan bullying di dunia pendidikan. Jika berkenan, pembaca sekalian bisa membagikan cerita pengalaman melalui kolom komentar. ?

Related Post

Ad Placement