Agustus 2015 - @dnwahyudi

Cari Apapun di Sini

Journal Tour (4): Belanja 0

Journal Tour (4): Belanja

Travelling rasanya benar-benar hambar kalau tidak disertai dengan belanja. Sayangnya, karena aku kurang berpengalaman dalam travelling, akhirnya aku kurang mempersiapkan diri untuk urusan belanja-belanja ini.

Pagi pertama di Jakarta, Jumat 20 Februari 2015 kegiatan kami diawali dengan sarapan di hotel. Setelah sarapan, rombongan langsung menuju bus untuk bersama-sama mengunjungi Pasar Tanah Abang.

Pasar Tanah Abang yang konon katanya adalah pasar grosir konveksi terbesar diAsia Tenggara memang benar-benar sangat besar. Karena perhatianku teralihkan oleh lingkungan sekitar (macet, gedung-gedung, orang-orang) aku jadi kurang memperhatikan besarnya gedung Pasar Tanah Abang Blok A ini.

Besarnya gedung Blok A ini baru terasa ketika kita berada di dalamnya. Kalau aku tidak salah hitung, gedung ini terdiri dari tujuh belas lantai.

Ada hal unik di gedung Blok A ini. Kita tidak akan menemukan lantai bernomor 4 dan 13 di gedung ini. Menurutku, hal ini mungkin karena adanya mitos dari salah satu etnis di Indonesia yang kurang menyukai angka 4 dan 13. Jadi, kalau diurutkan dari bawah, penamaan lantai Gedung Blok A adalah SLG (Second Lower Ground), LG (Lower Ground), G (Ground), 1, 2, 3, 3a, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 12a, dan terakhir 14.

Dari semua orang rumah, cuma Ibu yang sempat pesan oleh-oleh. Jadi, aku cuma sempat untuk mikir beli oleh-oleh untuk Ibu. Selain bingung mau beli apa, juga karena masih dengan alasan yang sama; jetlag tak berkesudahan.

Pukul 11.00, beberapa dari kami memisahkan diri menuju Masjid Istiqlal untuk melaksakan sholat Jumat. Kalau dilihat sekilas,sepertinya luas lahan Masjid Istiqlal agak sedikit lebih kecil dibanding dengan lahan Islamic Center Samarinda. Aku gak yakin juga, sih.. Gak sempat ngukur soalnya.

Sayang sekali aku tidak sempat mengambil gambar/foto-foto di area Masjid Istiqlal karena waktu sholat Jumat sudah hampir tiba. Aku Cuma sempat ambil gambar di tempat wudhu saja.

Setelah sholat jumat, rombongan kami bertolak menuju pantai Ancol. Kali ini baru ngerasa macetnya Jakarta. Seingatku, bus sempat mutar-mutar di tempat yang sama beberapa kali. Entah apa yang dipikirkan sang penegmudi bus.

Kira-kira waktu adzan ashar, kami tiba di Pantai Ancol. Sayangnya, rombongan kami tidak menjadwalkan masuk objek-objek wisata yang ada di pantai Ancol. Mungkin duitnya udah amblas di pasar Tanah Abang barusan.

Di pantai Ancol, kami hanya bersantai sebentar. Bagi yang narsis, bisa foto-foto. Ada yang naik perahu, ada juga yang hanya sekedar duduk-duduk. Aku sendiri Cuma jalan-jalan sedikit sambil ambil foto sana-sini.

Menjelang maghrib, rombongan bertolak menuju hotel untuk mempersiapkan diri menghadapi jadwal esok harinya, yaitu pulang… 😀
Kamera Poket Premium: Akankah?
0

Kamera Poket Premium: Akankah?

Sulit dipungkiri memang, bahwa hobi fotografi termasuk hobi yang lumayan mahal, terutama bagi aku yang pendapatannya masih secuil. Karena alasan itu, aku jadi menunda untuk membeli kamera DSLR untuk mendalami fotografi. Takutnya, mengumpulkan foto bukan benar-benar hobiku. Takutnya, ini hanya “hasrat sesaat”-ku padamu.

Selama ini, minatku pada fotografi hanya disalurkan dengan baca-baca blog fotografi milik orang lain, lihat-lihat foto di flickr (sambil mengamati data exif-nya), browsing-browsing di toko kamera daring dan (yang paling maksimal) hanya jeprat-jepret menggunakan kamera poketku yang udah mulai uzur.

Salah satu blog fotgrafi favoritku membuat daftar kamera yang layak dipertimbangkan sebagai kamera pertama untuk pemula. Hampir setengah dari daftar itu berisi kamera poket (point and shoot) yang harganya lumayan “wow”. Kita sebut saja sebagai kamera poket premium (bukan pertamax atau solar). :mrgreen: Harga kamera poket ini mendekati, bahkan melewati harga kamera DSLR golongan pemula~menengah.

Tampaknya, aku mulai keracunan dengan kamera poket premium ini. Kamera yang kaya fitur ini memang bisa dijadikan alternatif bagi pemula.

Kamera poket premium menjembatani kebutuhan para enthusiasts akan kamera yang compact (ringkas), namun juga menawarkan fleksibilitas pengaturan pengambilan gambar. Menurutku, cocok sekali bagi pemula yang ingin serius mempelajari masalah shutter speed, iso sensitifity, aperture (bukaan diafragma) dan kawan-kawannya namun di saat yang sama menghindarkan resiko kerusakan kamera yang diakibatkan kesalahan penanganan dan perawatan kamera.

Jadi, beli DSLR, kamera poket mahal, atau browsing flickr aja, ya…!?!? 😀
Jalan ke Tenggarong (II) 0

Jalan ke Tenggarong (II)

Tanggal 2 Agustus yang lalu aku (lagi-lagi) ke Tenggarong untuk mengunjungi sanak keluarga di sana. Teranyata, ada yang masih penasaran dengan museum Mulawarman karena pada kunjungan ke Tenggarong sebelumnya, Museum Mulawarman ditutup karena adanya persiapan penyelenggaraan Erau.

Gak banyak yang bisa aku ceritakan. Jadi aku pasang foto-foto aja untuk tulisan kali ini.

Ruang tengah Museum


Pakaian Raja


Berfoto di luar museum
Aku yang kurang suka ke Museum, krang menikmati kunjungan ini. Seandainya bisa memilih, aku lebih memilih untuk pergi ke bioskop atau karaoke aja :hehe: . Tapi apa mau dikata, tugas sebagai supir gak bisa ditolak.
Upgrade ke Windows 10 0

Upgrade ke Windows 10

Walaupun aku sering menyebut diriku sebagai pengguna Linux Ubuntu, namun pada kenyataannya, baik di laptop maupun PC Desktop-ku masih ter-install sitem operasi Windows. Sepertinya orang seperti aku memang tidak bisa lepas secara total dari sistem operasi buatan Microsoft ini.

Lingkungan kerja yang 100% menggunakan Windows mau tidak mau membuat aku harus memakainya juga. Sharing file, kompatibilitas perangkat lunak dan hal lainnya yang membuat aku juga harus memakai sistem operasi Windows.

Jadi, seperti yang sudah kita ketahui kalau untuk Windows 10 ini, Microsoft menawarkan upgrade gratis selama satu tahun bagi pengguna Windows 7 dan juga Windows 8. “Tak disangka”, ternyata aku “qualified” atas penawaran dari Windows ini.

Awal bulan Juni lalu, tiba-tiba muncul notifikasi di tray icon. Lambang Windows 10 ada di pojok kanan bawah jendela laptopku ini. Setelah aku klik, ternyata yang muncul adalah tawaran untuk meningkatkan sistem operasi dari Windows 7 menjadi Windows 10. Di situ, aku harus mendaftar dengan memasukkan alamat email dan identitas lainnya. Pop up itu menginformasikan juga bahwa Microsoft akan memberitahukan saat Windows 10 siap di-download.
Untuk wilayah Indonesia, Windows 10 siap diunduh pada tanggal 29 Juli yang lalu. Aku sendiri baru mulai mengunduhnya pada tanggal 8 Agustus, hari Sabtu yang lalu.

Setidaknya dalam proses upgrade ini, aku mengalami dua kali kegagalan. Kemungkinan, kegagalan ini terjadi karena koneksi internet yang tidak stabil. Alhamdulillah, pada Senin siang akhirnya proses upgrade ini selesai juga.

Nah, demikianlah pengalamanku upgrade ke Windows 10. Bagaimana dengan teman-teman sekalin? Udah upgrade? 🙂

Krisis Koneksi 0

Krisis Koneksi

Entah kenapa dalam beberapa hari ini, internet sekolah yang menggunakan ISP spidol/in-de-hom tidak bisa mengakses blogku dan beberapa website lain. Untungnya, masalah ini bisa sedikit teratasi dengan bantuan proxy dan juga vpn.

Aku khawatir masalah ini bisa menyebabkan penurunan traffic blogku, mengingat blogku berbahasa Indonesia sehingga pengunjungnya hampir semuanya dari Indonesia.

Awalnya, aku curiga kalau masalah ini ada pada webhosting. Tapi setelah browsing sana-sini, banyak yang menulis kalau ISP spidol sering bermasalah. Aku coba mengakses blogku ini dengan ISP lain, dan memang benar sepertinya masalah ada sama si spidol.

Ada yang berhasil mengatasi masalahnya dengan menggunakan DNS server google. Aku coba aja masukkin tu 8.8.8.8 dan 8.8.4.4 di DNS servernya, tetapi masalah tak kunjung teratasi.

Cara lain menurut artikel yang kubaca adalah dengan tracing route. Dengan tracing route, kita bisa tahu koneksi itu putusnya ada di mana. Terus, kalau putusnya ketemu, tinggal kita laporkan ke ISP (males banget).

Akhirnya, cara terbaik yang bisa dilakukan adalah tetap dengan menggunakan proxy. Untungnya banyak proxy gratisan yang kecepatannya gak mengecewakan.

Sepertinya pelayanan dari ISP spidol memang kurang memuaskan. Aku jadi mengurungkan niat untuk pasang layanan dari perusahaan plat merah ini…

Related Post

Ad Placement