Tengoklah foto ini. Ini adalah sepotong kebun kecil yang tumbuh subur di dalam wadah yang sederhana. Ini adalah tanaman daun sop—atau yang lebih kita kenal sebagai seledri—yang ditanam dan dirawat oleh ayahku.
Yang menarik, potnya bukan pot mahal dari toko tanaman. Ini adalah kreasi daur ulang ayah dari barang bekas yang sudah tak terpakai. Sebuah wadah yang mendapatkan kehidupan kedua, menjadi rumah bagi akar-akar hijau. Tanaman seledri ini tidak sendirian; ia menjadi bagian dari oasis mini di sekitar rumah kami, berjajar dengan cabai, tomat, dan beberapa tumbuhan lainnya, menciptakan simfoni warna dan kehidupan di teras yang sempit.
Ayahku adalah anak seorang petani. Darah dan ingatan tentang tanah mungkin mengalir deras dalam dirinya. Meski profesinya sehari-hari bukan di lahan pertanian, hobinya adalah memelihara tanaman pangan. Ada kepuasan tersendiri baginya melihat benih tumbuh, dari semai kecil hingga siap dipetik. Aku kerap memperhatikan caranya merawat, memeriksa daun, dan menyiram dengan penuh kesabaran. Aku yakin, ayah punya ‘bakat alam’ dalam bertani. Ada naluri yang tak bisa diajarkan, semacam kepekaan terhadap tanah dan tanaman, yang membuat apa pun yang ditanam tangannya cenderung tumbuh dengan gembira. Walau skalanya hanya untuk kebutuhan dapur keluarga, warisan sang kakek petani itu hidup dan berbuah di sini.
Dan seledri ini bukan sekadar penghias masakan. Daun beraroma khas ini adalah paket kesehatan mini. Beberapa manfaatnya antara lain:
Kaya antioksidan yang melawan radikal bebas dan peradangan.
Membantu menjaga kesehatan pencernaan.
Mendukung kesehatan jantung dengan membantu mengontrol kolesterol.
Sumber vitamin K, A, dan C yang baik untuk tulang, mata, dan imunitas.
Jadi, setiap kali aku memetik sebatang seledri dari pot bekas ini, yang terasa bukan hanya kesegaran untuk sayur sop atau campuran sambal. Aku memetik sebuah cerita. Cerita tentang warisan, tentang kreativitas mendaur ulang, tentang bakat yang diwariskan secara halus, dan tentang kesederhanaan memelihara kehidupan.
Ini adalah ketahanan pangan dalam skala paling personal. Ini adalah cara ayahku tetap terhubung dengan akarnya, sambil memberi kami yang terbaik dari ujung jarinya yang selalu cekatan di tanah. Sebuah pelajaran besar, yang tumbuh dari sebuah pot bekas.
Klik pada tombol berikut untuk berkomentar di fediverse
Komantar di Fediverse/Mastodon



Wah.. Daun seledri yang segar.
BalasHapusFavorit saya dimasak dengan telur dadar atau perkedel kentang... 🤤